GOSIP


“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” (Amsal 21:23)

APA ITU GOSIP?

Gosip adalah menyebarkan informasi yang buruk (informasi yang negatif, bukan positif) tentang orang lain yang tidak hadir dalam pembicaraan bersama kita, dan kita tidak pernah mengklarifikasi langsung informasi itu kepada orang yang sedang kita bicarakan itu. Gosip itu bisa sesuai dengan fakta, namun bisa juga belum tentu sesuai dengan fakta yang ada. Jadi, gosip bisa benar, bisa juga salah. Gosip merupakan informasi negatif yang biasanya tersebar dari mulut ke mulut, melalui pembicaraan antar orang.
Gosip adalah sebuah obrolan negatif tentang orang lain, yang merusak nama baik/reputasi orang lain, menjatuhkan orang lain, dan obrolan itu dilakukan tidak pada tempat yang semestinya, atau tidak pada orang yang seharusnya. Gosip adalah “pembunuhan” terhadap karakter seseorang.
Tidak semua informasi dan percakapan tentang hal yang negatif mengenai orang lain dikategorikan sebagai gosip. Misalnya, dalam rapat para guru di sebuah sekolah, membicarakan tentang seorang murid yang melakukan “perbuatan tidak senonoh”. Informasi negatif ini dibicarakan dalam konteks dan tempat yang tepat, yaitu dalam rapat para guru, yang sudah sepatutnya mencari solusi atau pemecahan bersama. Jadi, berbeda dengan gosip. Gosip terjadi dalam konteks yang tidak sepatutnya.
Dalam kenyataannya, seringkali gosip didasarkan pada “asumsi-asumsi, anggapan-anggapan, kemungkinan-kemungkinan yang tidak pasti”, bukan didasarkan pada fakta/kenyataan sebenarnya. Itulah sebabnya, gosip sering disebut sebagai “kabar burung.” Seringkali gosip banyak yang sudah “dibumbu-bumbui”, atau “ditambah-tambahi”. Jadi, sebenarnya yang terjadi adalah “membuat kisah/cerita baru” tentang orang lain.

APA YANG SALAH DENGAN GOSIP?
  1. Menggosip merupakan salah satu bentuk sikap menghakimi orang lain, yaitu suka atau getol mencari-cari kesalahan orang lain. (Matius 7:1-5). Suka meneropongi dan mengawasi hidup orang lain, tetapi kurang mengawasi dan mencermati hidup diri sendiri.
  2. Gosip merupakan sikap yang mencoreng atau merusak nama baik orang lain. Celakanya, kadang-kadang gosip berjalan bersamaan dengan fitnah. Gosip dan fitnah seperti “saudara kembar”. Gosip beranak- cucu.

BAGAIMANA SIKAP KITA TERHADAP GOSIP?
1.     Ingatlah: “Orang yang suka menggosipkan orang lain, biasanya suatu saat akan menggosipkan Anda juga.”
2.     Jika Anda sedang berada dalam kumpulan orang yang sedang bergosip, jika memungkinkan, tinggalkan tempat itu, atau coba alihkan topik pembicaraan.
3.     Setiap informasi yang kita terima harus ditelusuri, dan diselidiki fakta-fakta kebenarannya. Apakah ini sebuah fakta, atau hanya sebuah asumsi? (Bandingkan Ulangan 13:12-14).
4.     Karena gosip biasanya beranak-cucu, putuskanlah mata rantai gosip dimulai dari diri Anda yang mendengarnya. Jika Anda menerima informasi itu, tidak perlu Anda sebarluaskan kepada orang lain (Bdk. Amsal 26:20), cukup berhenti sampai pada diri Anda saja. Menurut, Gary Thomas, salah satu disiplin rohani yang terabaikan pada masa kini adalah belajar membatasi rasa ingin tahu yang tidak perlu, yang sebenarnya bukan wewenang dan bagian kita untuk memastikan kebenarannya.
5.     Ingat prinsip “Hukum Emas” (Golden Rule) dalam Matius 7:12. Kita ingin dihargai, hargai orang lain! Kita tidak mau digosipkan, oleh sebab itu jangan menggosipkan orang lain.

Doa: “Tuhan, seumur hidup kami akan terus belajar untuk mendengar dan berkata-kata dengan bijak. Tidak mudah bagi kami untuk melakukannya. Tuhan, kasihanilah kami. Tuhan, tolong dan mampukanlah kami. Amin.”


MENGEJAR KEBAHAGIAAN?

Apakah Alkitab ada mengajarkan secara eksplisit atau implisit, supaya kita mengejar kebahagiaan (happiness) dalam hidup ini? Bukankah hal ini yang sering diajarkan oleh lingkungan kita, dan mungkin yang sering kita lakukan, yaitu: Mengejar Kebahagiaan? Apa sebenarnya yang Alkitab ajarkan tentang   “kebahagiaan”?

Jika kita dengan teliti mempelajari Alkitab, maka tidak ada satu bagian pun dalam Alkitab yang memberikan perintah kepada kita untuk mengejar kebahagiaan. Yang ada adalah Alkitab memberikan perintah bagi kita, misalnya, mengejar/mencari Allah dan kehendak-Nya (1 Tawarikh 16;11; Matius 6:33), atau mengejar kekudusan (Ibrani 12:14).
Bahkan Ucapan Bahagia (Matius 5:3-12) yang merupakan bagian Khotbah Tuhan Yesus di Bukit, bukan memberikan perintah untuk mengejar kebahagiaan, tetapi Ucapan Bahagia Tuhan Yesus adalah sebuah deklarasi kebahagiaan.Yesus tidak berkata, “Kejarlah, carilah kebahagiaan!” Tetapi Yesus mendeklarasikan atau menyatakan siapakah orang yang berbahagia itu. Orang yang berbahagia adalah orang yang miskin secara rohani di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Orang yang berbahagia adalah orang yang berduka atas dosa-dosanya, karena mereka akan dihibur oleh Tuhan. Orang yang berbahagia adalah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi, dan seterusnya. Disini kita melihat, kebahagiaan adalah akibat, atau hasil/buah dari kita mengejar apa yang disukai Tuhan. Pengkhotbah 8:12 menyatakan, “Orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan.” Jadi, kebahagiaan itu bukan untuk dikejar, tetapi kebahagiaan adalah berkat yang Allah sediakan dan berikan bagi orang percaya di dalam Kristus yang hidup mengasihi Tuhan, dan menaati perintah-Nya.
Konsep kebahagiaan yang Yesus ajarkan bukanlah kebahagiaan yang bergantung pada kondisi eksternal di sekeliling kita. “Saya berbahagia karena hidup saya lancar dan sukses. Saya berbahagia karena saya sehat. Saya berbahagia karena saya mempunyai pasangan hidup yang baik.” Bukan itu! Karena kondisi eksternal kita bisa berubah-ubah, tidak menentu. Tidak selalu hidup kita lancar, dan berjalan sesuai dengan harapan dan rencana kita. Tidak selalu kita sehat, dan tidak selalu kehidupan keluarga kita harmonis.
Istilah “kebahagiaan” (Yunani: makarios) yang Yesus maksudkan adalah kebahagiaan pada saat kita memiliki relasi yang benar dengan Allah. Kebahagiaan yang diperoleh ketika kita mendapat perkenanan dari Allah. Kebahagiaan yang di dalamnya kita berada dalam berkat Allah yang adalah Sumber Berkat itu. Itulah sebabnya, dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris (ESV, NIV, KJV, RSV) menggunakan istilah, “Blessed...” (Diberkatilah…).
Kebahagiaan versi Yesus (makarios) adalah kebahagiaan yang bersifat batiniah, inner happiness, inner satisfaction. Kebahagiaan yang tidak bergantung keadaan di sekeliling kita, baik atau tidak baik. Yesus berkata dalam Matius 5:10-11, “Berbahagialah (makarios) jika kamu dianiaya oleh karena kebenaran. Berbahagialah jika kamu dicela dan difitnahkan segala yang jahat oleh karena nama-Ku.” Dianiaya pasti adalah sebuah kondisi yang tidak mengenakkan, tetapi Tuhan Yesus menyebut orang itu sebagai orang yang berbahagia/diberkati, karena hidup benar di hadapan Allah.
Diri Allah sendiri adalah Sumber Kebahagiaan kita. Pada saat kita menjadikan “sesuatu” di luar diri Allah (harta, jabatan, kesehatan, pasangan hidup, keluarga, anak, dll) sebagai sumber kebahagiaan dalam hidup ini, maka kita justru akan kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya, ketika semua itu tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, atau ketika kita kehilangan semua itu. Allah memberikan harta, jabatan, kesehatan, keluarga, atau pasangan hidup atau anak kepada kita, bukanlah untuk dijadikan sumber kebahagiaan, tetapi melalui semua itu, Allah ingin membentuk kita menjadi manusia yang Dia inginkan, yang makin bertumbuh serupa Kristus, manusia yang memuliakan Allah dan menikmati Dia.
Tujuan hidup kita yang dinyatakan dalam Alkitab dirangkum dengan sangat baik oleh Katekismus Singkat Westminster, “To glorify God and to enjoy Him forever” (Memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya). Kebahagiaan sejati adalah hasil dari mencari dan mengejar tujuan akhir hidup yang benar. Pada saat seseorang memuliakan Allah dan menikmati Dia, maka kebahagiaan yang sejati akan dialami oleh orang itu. Kebahagiaan sejati hanya terwujud dan dialami, jika orang itu hidup sesuai dengan maksud dan tujuan Allah bagi dirinya.


Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7)

TUHAN, MAMPUKAN KAMI MENGAMPUNI SESAMA KAMI

Kita harus mengakui bahwa mengampuni bukanlah sifat alamiah/natural manusia berdosa. Membalas adalah sifat alamiah kita orang berdosa.
Ketika membalas, mungkin hati kita yang sakit “terpuaskan”, tetapi pembalasan tidak pernah menyelesaikan dan memutuskan rantai kebencian dan sakit hati dalam hidup kita. Pada saat kita membalas kejahatan dengan kejahatan, kebencian dibalas dengan kebencian lagi, maka sebenarnya kita bukan sedang memperbaiki keadaan,tetapi justru makin memperburuk keadaan.

Dalam Doa Bapa Kami, kebutuhan manusia akan pengampunan ditempatkan Yesus pada urutan kedua setelah kebutuhan akan makan dan minum.
Manusia bukan saja butuh makan dan minum, tetapi juga butuh pengampunan dalam hidupnya.
Dalam Doa Bapa Kami dikatakan, “dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:12). 


Kalimat itu bukan berarti Allah mengampuni kita oleh karena kita juga mengampuni orang lain. 
Kalimat itu bukan berarti untuk mendapatkan pengampunan dari Allah, kita harus terlebih dahulu bisa mengampuni orang lain. Kita diampuni oleh Allah, semata-mata karena kemurahan dan belas kasihan-Nya terhadap kita melalui Kristus, bukan karena jasa dan amal baik kita. Tetapi yang Yesus maksudkan dalam doa ini adalah jika kita tidak mau mengampuni orang lain, maka kita sebenarnya tidak mengakui betapa besarnya pengampunan Allah bagi kita.
Jika kita tidak mau mengampuni, kita tidak menghargai dan menghayati nilai dari pengampunan Allah. Sikap tidak mau mengampuni orang lain memperlihatkan bahwa kita adalah orang yang keras hati, tidak ada penyesalan, tidak ada pertobatan, tidak ada kehancuran hati sebagai orang berdosa yang sudah terlebih dahulu mengalami pengampunan yang tak terbatas dari Allah.

Jika kita bisa jujur dan objektif melihat ke dalam diri kita sendiri, sebenarnya dosa dan kesalahan yang kita lakukan terhadap Allah jauh lebih besar, jauh lebih banyak, dan jauh lebih sering, jika dibandingkan dengan kesalahan yang orang lain perbuat terhadap diri kita. Saya sungguh sadar jika luka hati itu begitu dalam, tidak mudah sembuh begitu saja. Saya tidak ingin menyepelekan pergumulan orang lain.
Namun kita harus sadar, betapapun sakitnya hati kita akibat dilukai atau dihina oleh orang lain, semua itu tetap jauh lebih kecil jika dibandingkan kita sudah menyakiti hati Tuhan.

Pernahkah kita mencoba menghitung, selama sekian puluh tahun kita hidup di dunia ini sampai sekarang, kira-kira berapa kali kita sudah berdosa kepada Tuhan, baik melalui hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan kita? Sangat banyak! Karena begitu banyaknya, kita tidak bisa menghitung dan mengingatnya lagi.
Berapa kali kita telah menyakiti hati Tuhan? Terlalu sering dan terlalu banyak! Berapa kali kita minta pengampunan kepada Tuhan? Sangat sering dan sangat banyak!
Jika Allah sedemikian murah hati kepada kita, mengampuni kita dengan pengampunan yang tidak terbatas, mengapa kita justru membatasi pengampunan kita kepada orang lain? Mengapa kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain?

Firman Tuhan dalam Efesus 4:31-32 menyatakan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” 
Jadi, pengampunan Allah yang kita terima di dalam dan melalui Yesus Kristus, menjadi dasar perintah supaya kita mengampuni orang lain. God is the Great Forgiver!
Ada orang yang beranggapan, kalau kita benar-benar sudah mengampuni seseorang, maka kita harus bisa melupakan kesalahan orang itu. Kalau kita masih ingat kesalahan yang orang lain lakukan kepada kita, berarti kita belum sungguh-sungguh mengampuni. Ini pandangan yang keliru.

Manusia diciptakan dengan memiliki daya ingat/memori. Misalnya, jika pasangan kita (suami/istri) berselingkuh dan bersetubuh dengan orang lain, lalu pasangan kita itu bertobat, dan kita mengampuninya, mungkinkah kita bisa melupakan pengkhianatan yang pernah dilakukan oleh pasangan kita itu? Tentu tidak! 


Mengampuni berarti kita tidak menyangkali bahwa orang itu pernah menyakiti dan melukai hati kita, tetapi ingatan itu tidak membuat kita sakit hati, dendam, atau benci lagi kepada orang itu. Ingatan itu tidak menjadi problem lagi bagi kita, ketika kita berelasi dengan orang yang sudah kita ampuni. Dulu sebelum mengampuni, kita ingat kesalahan orang itu, dan timbul kebencian, kepahitan, dan amarah dalam diri kita. Namun, ketika kita mengampuni, kita juga tetap masih ingat kesalahan yang diperbuatnya, tetapi kita sekarang telah terbebas dari kepahitan, terlepas dari dendam dan kebencian.
Mengampuni tidak sama dengan melupakan kesalahan orang (Forgiving is not forgetting).Tidak semua jenis kesalahan orang bisa kita lupakan begitu saja.

Dalam kenyataan dan praktiknya, pengampunan yang sesungguhnya lebih kepada sebuah proses yang memerlukan tahapan dan proses waktu.
Ketika kita mengampuni, seringkali hati kita berontak untuk melakukannya, apalagi jika luka hati itu begitu dalam. Itulah sebabnya, seringkali pengampunan bukanlah sebuah “tindakan sekali jadi, dan langsung beres”, tetapi pengampunan lebih kepada sebuah “proses”.
Kadang-kadang, kita harus menanggalkan kepahitan dan kebencian dalam diri kita itu berkali-kali, sebelum akhirnya kita dibebaskan sepenuhnya dengan pertolongan Tuhan.

"Musuh kita yang sesungguhnya bukanlah orang yang melukai kita, bukan orang yang menyakiti hati kita, bukan orang yang memfitnah kita, atau orang yang mencoreng nama baik kita, tetapi musuh kita yang sesungguhnya adalah KEBENCIAN yang ada di dalam diri kita sendiri."
Henri Nouwen (1932-1996) menyatakan: "Pengampunan adalah kasih yang dipraktikkan di tengah-tengah orang yang kurang mengasihi.”
Ketika kita mengampuni, berarti kita sedang menyatakan kemurahan, belas kasihan, dan kebaikan kepada orang lain.
Pada saat kita tidak mengampuni, kita kehilangan sifat kemurahan dan belas kasihan dalam diri kita kepada orang lain. Ketika kita mengampuni, kita sedang menaburkan perdamaian dalam hidup ini. Namun, ketika kita tidak mengampuni, kita akan terus menaburkan kebencian dan pertikaian yang tidak ada habis-habisnya. Sekarang pilihan ada di tangan kita. 

Kita mau hidup dalam pengampunan atau tidak. 
Mau tetap hidup terpenjara dalam kebencian atau hidup dalam kelegaan dan kebebasan.
Mau hidup dalam dendam, atau hidup dalam anugerah. 

Mau hidup dalam kepahitan atau sukacita. 

Salah satu ciri atau tanda orang yang makin dewasa rohaninya adalah orang itu akan lebih cepat mengampuni.

Marilah kita terus berdoa kepada Tuhan, supaya kemurahan dan belas kasihan-Nya memenuhi hati kita, sehingga kita dimampukan untuk hidup saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus sudah terlebih dahulu mengampuni kita dengan pengampunan-Nya yang tak terbatas.

Marilah kita memberikan diri kita sendiri, menjadi saluran kasih dan pengampunan Tuhan bagi sesama kita. Memang sungguh tidak mudah, tetapi Tuhan akan menolong setiap orang yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya.

"Tuhan, kasihanilah kami. Tuhan, mampukanlah kami.” Amin.πŸ™πŸ½πŸ™πŸ½

KEKELIRUAN DALAM HAL BERDOA


Apakah berdoa itu mudah? Bagi sebagian orang yang baru bertobat percaya Yesus dan baru mengenal kekristenan, mungkin berdoa itu bukan hal yang mudah, apalagi kalau diminta memimpin doa di depan umum (publik).
Namun, bagi sebagian orang lagi, mungkin berdoa itu hal yang mudah, apalagi jika orang itu sudah terbiasa memimpin doa secara spontan di depan umum, dan memiliki kemampuan untuk dapat merangkai kata-kata yang indah dan bagus saat berdoa.
Namun, pernahkah kita mencoba bertanya, “Apakah setiap doa-doa kita pasti disukai oleh Tuhan? Apakah setiap doa-doa yang kita panjatkan dengan fasih, lancar, dengan kata-kata yang indah, intonasi suara yang bagus, dirangkai dengan kata-kata yang secara teologis sangat Alkitabiah, apakah semua doa seperti itu pasti berkenan di hati Tuhan? Apakah doa hanya sebatas kata-kata?”

Dr. Edmund Chan, dalam bukunya “Growing Deep  In God: Integrating Theology and Prayer” menyatakan,
“Sebenarnya, tidak ada satupun orang Kristen yang bisa berkata bahwa dirinya  sudah “expert” (ahli) dan “professional” dalam hal berdoa.” 

Mungkin kita bisa berkata, “Orang itu itu “expert” (ahli) memainkan gitar! Dia seorang gitaris yang professional! Kita juga mungkin bisa berkata, “Orang itu “expert” (ahli) dalam hal menari. Dia seorang penari yang professional!”
Tetapi bisakah kita mengatakan orang Kristen itu “expert” (ahli) dan professional dalam hal berdoa?

Dr. Edmund Chan mengingatkan kita, bahwa dalam dunia bisnis, dunia olahraga, dunia hiburan, dan yang lainnya, kita bisa memberikan label “expert” dan “professional” kepada seseorang, tetapi dalam hal berdoa, tidak seorang pun yang bisa mengklaim bahwa dirinya seorang yang “expert” dan “professional”, termasuk saya yang sedang membahas topik ini.
Mungkin seseorang bisa saja memiliki segudang pengetahuan yang luar biasa tentang doa, dia ahli membahas topik tentang doa (itupun sebenarnya tidak salah), tetapi tidak secara otomotis orang yang ahli membahas topik tentang doa akan selalu memiliki kehidupan doa yang berkenan di hati Tuhan.
Semua kita, termasuk saya, terus-menerus menjadi pembelajar dalam hal berdoa. Seumur hidup kita akan terus-menerus belajar berdoa. Mengapa demikian?

Pertama, karena berdoa bukan sekedar berbicara masalah “kata-kata” kepada Tuhan, tetapi berdoa juga berbicara masalah sikap hatidan motivasi di hadapan Tuhan. Dan kita harus mengakui dengan jujur, di dalam natur keberdosaan kita, betapa sulitnya untuk menjaga hati kita senantiasa bersih di hadapan Tuhan! Tuhan Yesus menegur sebagian orang yang berdoa dengan motivasi untuk mengesankan orang lain, untuk pamer kesalehan diri, atau berdoa dimotivasi untuk mencari pujian dari manusia (Matius 6:5-6).
Doa bukanlah ajang untuk memamerkan kefasihan lidah kita. Doa bukanlah ajang untuk memamerkan begitu puitisnya kata-kata doa kita. Doa bukanlah ajang untuk memamerkan betapa bagusnya intonasi suara kita saat berdoa. Point yang ingin saya tekankan adalah jangan sekali-kali berdoa dengan motivasi untuk “pamer.”
Pada saat kita berdoa untuk pamer, maka kita telah salah arah. Kita telah memfokuskan perhatian kita dan menujukan doa kita kepada pendengar, kepada publik ataujemaat, bukan kepada Allah yang seharusnya menjadi pusat doa kita. Namun penjelasan saya tidak berhenti sampai di sini.

Jika ada orang yang berdoa dengan fasih, dengan kata-kata yang bagus, puitis, intonasi suaranya bagus, tidak berarti orang itu pasti selalu sedang pamer dalam berdoa. Karena hal ini berkaitan dengan motivasi, menyangkut isi hati manusia, maka biarlah kita serahkan hal ini menjadi urusan pribadi orang itu dengan Tuhan. Biarlah tiap-tiap orang menguji hatinya di hadapan Tuhan ketika dia berdoa.
Jangan kita menghakimi, atau mencurigai  doa-doa yang dipanjatkan seperti itu. Janganlah kita masuk ke dalam wilayah yang bukan wewenang kita, yang bukan bagian kita, sehingga kita jatuh ke dalam dosa dengan menempatkan diri seperti Allah yang Maha Tahu isi hati orang. Karena memang ada orang-orang tertentu yang mampu merangkai kata-kata dengan begitu baik, secara alamiah, spontan, tanpa punya motivasi untuk pamer diri. Bukankah kitab Mazmur juga banyak berisi doa-doa dalam bentuk puisi? Sekali lagi, biarlah kita tidak berprasangka buruk terhadap hal-hal seperti itu.

Kedua, ada godaan bagi kita, berdoa hanya semata-mata sebuah “kebiasaan rohani” tanpa disertai dengan sikap hati yang sungguh-sungguh menyembah dan mengasihi Tuhan. Berdoa cuma basa-basi saja, keluar dari bibir, tetapi tidak berasal dari hati yang tulus dan penuh kejujuran untuk mencari kehendak Allah. Tuhan tidak menyukai doa yangsemata-mata mekanis dan ritual belaka; asal berkata-kata, tetapi tidak keluar dari hati yang tulus untuk mencari Allah (Matius 6:7-8). Misalnya, mungkin dalam doa kita berkata, “Jadilah kehendak-Mu!” Tetapi dalam kenyataannya, kita mencari dan memprioritaskan kehendak diri kita sendiri, bukan kehendak Tuhan. Kita tidak tulus untuk sungguh-sungguh mau tunduk pada kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Bahkan, adakalanya kita bisa jatuh ke dalam kesalahan, berdoa dengan kata-kata yang seolah-olah mengungkapkan kerendahan hati kita, tetapi sesungguhnya dalam lubuk hati yang paling dalam, kita penuh dengan keangkuhan rohani. Manusia mungkin tidak bisa melihat hal itu, tetapi Allah Maha Tahu dan Maha Melihat.



Dr. Simon Chan, seorang dosen di Trinity Theological College, Singapore menyatakan, “Biarlah hatimu mengatakan kepadamu apa yang ingin engkau katakan kepada Allah, dan katakanlah dengan sederhana tanpa terganggu dengan kata-katanya. Merupakan sebuah kebodohan jika kita ingin  menyombongkan diri dalam doa di hadapan Allah”.

Kiranya Tuhan menolong kita, jangan sampai sambil berdoa, kita sambil berdosa di hadapan Tuhan, dalam artian, doa-doa kita justru mendukakan hati Tuhan, karena sikap hati kita tidak berkenan di hadapan-Nya.

“Ya Tuhan, betapa sulitnya kami menjaga hati kami untuk senantiasa bersih di hadapan-Mu! Tuhan, kasihanilah kami. Tuhan, ampunilah kami. Tuhan, ajarilah kami berdoa sesuai dengan kehendak-Mu!” Amin.πŸ™πŸ½πŸ™πŸ½

MENJADI JAWABAN DOA BAGI PERGUMULAN ORANG LAIN

Di Amerika Serikat yang penduduknya mayoritas beragama Kristen, pernah diadakan sebuah survei dengan mengajukan sebuah pertanyaan, yaitu: “Ketika berdoa secara pribadi kepada Tuhan, hal-hal apa saja yang paling sering Anda minta kepada Tuhan?” 

Hasil survei ini dimuat dalam Majalah Newsweek edisi Maret 1997,  hasilnya adalah:



  • 82% responden berdoa untuk minta kesehatan dan kesuksesan.
  • 79% mereka percaya bahwa Tuhan akan memberikan mujizat kesembuhan, jika mereka sungguh-sungguh berdoa.
  • 73% berdoa untuk kebutuhan mereka dalam mencari pekerjaan yang baik.

Sungguh tidak salah jika kita berdoa supaya Tuhan menolong kita menjawab kebutuhan dan pergumulan hidup kita. Sungguh baik dan manusiawi sekali jika kita menaikkan doa-doa seperti ini: “Tuhan berikan aku kesehatan supaya aku dapat bekerja dengan baik. Tuhan berkati bisnisku, berkati pekerjaanku supaya aku dapat menafkahi keluargaku dengan baik. Tuhan, tolong sembuhkan penyakitku.” 
Itu doa yang baik, karena dalam Doa Bapa Kami, kita pun diajarkan untuk berdoa bagi kebutuhan fisik kita, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” 
Rasul Paulus pun di tengah pergumulannya tentang “duri dalam daging” yang dialaminya, dia juga berseru berdoa memohon kelepasan dari Tuhan, sekalipun Tuhan tidak mengabulkan permohonannya, tetapi Tuhan menjawab doa Paulus dalam bentuk lain, yaitu supaya Paulus justru makin mengalami kasih karunia dan kuasa Tuhan di dalam kelemahannya itu (2 Korintus 12:7-10)

Kesimpulan hasil survei di atas menunjukkan bahwa sebagian besar doa-doa orang Kristen di Amerika hanya berkutat pada pemenuhan kebutuhan fisik saja, atau berdoa untuk kepentingan diri sendiri saja. Mungkin hasil survei ini juga menggambarkan sebagian besar isi doa-doa kita, bukan hanya di Amerika. Sekali lagi, hal itu bukan doa yang salah. Itu doa yang baik. Tetapi kalau isi doa kita setiap hari hanya berkutat seputar kepentingan diri kita saja, maka kehidupan doa kita belum bertumbuh dengan baik. Hasil survei itu menunjukkan, sedikit sekali orang Kristen yang berdoa meminta kepada Tuhan supaya dirinya menjadi jawaban doa bagi kebutuhan dan pergumulan orang lain.

Saat ini kita mau belajar dari kehidupan doa Nehemia. Pada saat itu Nehemia menjabat posisi yang sangat penting sebagai juru minuman Raja Persia, Artahsasta. Juru minuman raja pada masa itu mempunyai hak yang sangat istimewa dan tanggung jawab yang besar. Sebelum raja meminum anggur atau minuman pada saat itu, maka tugas dari Nehemia untuk memastikan bahwa minuman itu tidak ada racun di dalamnya yang membahayakan raja. Karena sudah menjadi kebiasaan di dunia kuno pada masa itu, salah satu cara licik yang digunakan oleh musuh-musuh raja untuk membunuh raja lawan mereka adalah melalui racun yang dituangkan dalam minuman. Jadi, tidak mudah seseorang bisa menjadi juru minuman raja pada saat itu. Orang itu harus teruji kesetiaan dan loyalitasnya kepada raja. Orang itu harus benar-benar bisa dipercaya oleh raja. Jadi, jangan membayangkan pekerjaan juru minuman raja ini seperti pelayan-pelayan restoran yang melayani konsumen pada masa kini.

Suatu hari Nehemia, mendengar kabar buruk, kabar yang sungguh menyayat hatinya tentang kampung halamannya di Yerusalem. Di ayat 3 dikatakan, ada 2 berita yang menyedihkan yang disampaikan oleh Hanani, saudara kandung dari Nehemia. Berita memilukan itu adalah:

1. Umat Israel yang masih tersisa di Yerusalem mengalami kesukaran besar akibat situasi politik dan ekonomi. Dan kalau kita membaca Nehemia pasal 5, kesukaran besar itu berupa banyak orang Israel hidup dalam kemiskinan. Untuk makan sehari-hari saja pun mereka susah. Tidak sedikit diantara mereka yang menggadaikan rumah mereka demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah lagi mereka harus membayar pajak kepada raja sebagai bangsa tawanan Persia.

2. Tembok Yerusalem runtuh dan pintu-pintu gerbangnya terbakar. Padahal Yerusalem adalah Kota Suci Umat Israel, dimana Bait Allah sebagai tanda kehadiran Allah ada disana. Tetapi sekarang tembok Yerusalem yang dipandang sebagai identitas dan lambang kebesaran Yerusalem, tembok itu telah roboh.

Mendengar berita yang memilukan itu, Nehemia menangis, dia berkabung, dia berdoa, dan berpuasa berhari-hari di hadapan Tuhan. Tetapi Nehemia tidak berhenti hanya pada berdoa dan berpuasa, di ayat 11 jelas sekali terlihat niatnya yang tulus dan sungguh-sungguh untuk menolong umat Israel dari keterpurukan hidup mereka.

Jika kita membaca pasal 2 dan seterusnya, kita melihat Nehemia rela berkorban. Dia rela meninggalkan hidupnya yang nyaman di istana. Dia memimpin langsung pembangunan tembok dan pintu gerbang Yerusalem. Padahal mungkin Nehemia, bisa saja berkata, “Aku sangat sibuk di istana. Aku tidak mungkin meninggalkan tugas pentingku sebagai juru minuman raja. Aku tidak bisa datang ke Yerusalem. Hai orang Israel, aku akan memberikan sumbangan uang kepada kalian untuk meringankan beban hidup kalian, dan aku juga akan sumbang biaya pembangunan tembok Yerusalem.” Namun, Nehemia tidak mengambil keputusan seperti itu. Dia datang ke Yerusalem. Dia memberikan waktunya. Dia memberikan pikirannya. Dia memberikan uangnya, dan tenaganya. Dia memberikan dirinya sendiri untuk menolong umat Israel dan memimpin pembangunan tembok kota Yerusalem.

Nehemia juga tidak berkata, “Ya Tuhan, utuslah dan kirimkanlah orang lain untuk menolong umat-Mu di Yerusalem.” 
Kepedulian Nehemia bukan hanya di hati dan di bibir saja, bukan sekedar sebatas doa saja. Nehemia meminta Tuhan untuk mengutus dirinya sendiri.

Banyak orang yang bisa mendengar penderitaan dan pergumulan orang lain, tetapi tidak banyak orang yang setelah mendengar pergumulan orang lain, mau terlibat untuk membantu meringankan pergumulan orang lain, seperti yang dilakukan oleh Nehemia.

Banyak orang yang bisa mendengar pergumulan orang lain, tetapi tidak banyak orang yang setelah mendengar, lalu punya hati yang terusik, punya semacam “kegelisahan rohani”, punya hati yang tergerak untuk membantu meringankan beban hidup orang lain seperti Nehemia.

Nehemia sungguh menyadari apa artinya menerima anugerah dan berkat dari Tuhan. Dia orang yang sangat dipercaya raja, sehingga bisa menjadi juru minuman raja, padahal dia hanya orang asing di Kerajaan Persia. Nehemia sadar Tuhan memberikan posisi penting ini bagi dirinya,  karena ada maksud dan rencana Tuhan dalam hidupnya, yaitu supaya melalui dirinya, dia bisa meringankan beban hidup orang Israel dan membangun kembali tembok kota Yerusalem yang hancur.

Nehemia mempunyai hati yang siap sedia untuk dipakai oleh Tuhan menjadi jawaban doa bagi pergumulan dan penderitaan orang lain/bangsanya.
Banyak orang yang hanya bersyukur atas anugerah dan berkat Tuhan yang diterimanya, tetapi tidak banyak orang yang mau bertanya dan bergumul bersama Tuhan:“Tuhan, mengapa Engkau memberikan anugerah dan berkat itu bagi diriku? Apa maksud-Mu memberikan anugerah dan berkat itu bagi diriku? Apa yang Tuhan inginkan supaya aku lakukan?”

Kiranya Tuhan menolong kita, supaya Tuhan memampukan diri kita menjadi jawaban doa bagi kebutuhan dan pergumulan orang lain.
Berbahagialah orang yang mau dipakai oleh Tuhan menjadi berkat dan jawaban doa bagi pergumulan orang lain. Amin.

MEMBICARAKAN "KEKURANGAN" ORANG LAIN




Ada kata-kata bijak yang mengatakan demikian:

"Hal-hal yang kamu katakan tentang orang lain, sebenarnya mengatakan banyak hal tentang dirimu sendiri."
Kata-kata bijak di atas patut kita renungkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ketika kita membicarakan orang lain, khususnya berkaitan dengan kekurangan, kelemahan atau kejelekan orang lain (kadang-kadang itu pun belum tentu sepenuhnya benar), kita perlu berhati-hati dan bersikap bijaksana.

Minimal ada 3 pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri kita sendiri, ketika kita ingin membicarakan atau menerima informasi tentang "kejelekan orang lain":

1. Apakah hal yang kita bicarakan itu benar dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya di hadapan Tuhan? Apakah kita tahu persis duduk persoalan sebenarnya?

2. Apa motivasi dan tujuan kita membicarakan hal itu? Apakah tujuannya baik? Apakah didasari motivasi yg murni dan kasih yang tulus?

3. Apakah hal yang dibicarakan itu dalam konteks yang tepat?
Apakah hal itu lebih tepat dibicarakan dalam relasi secara personal?
Atau apakah hal itu lebih tepat hanya dibicarakan dalam rapat saja?
Atau apakah hal itu juga perlu diketahui dalam lingkaran yang lebih luas, yaitu konsumsi publik?

4. Apakah kita memahami dampak/akibat dari apa yang kita katakan tentang orang lain itu?
Apakah kita menjadi penyebar gosip atau pemutus rantai gosip?

Mari kita lebih berhati-hati ketika berbicara tentang orang lain, maupun ketika menerima informasi tentang "kekurangan" orang lain.

Jangan mudah terprovokasi, jangan mudah "dikompori," jangan mudah percaya begitu saja, sekali pun hal itu berasal dari pasangan Anda.
Namun, kita juga perlu belajar untuk bersikap netral atau tidak memihak, terhadap hal-hal yang kita sendiri belum tahu kebenarannya secara pasti.

Kita akan menpertanggungjawabkan setiap kata-kata, sikap, dan hidup kita di hadapan Tuhan.

"Bagaimana Anda berkata-kata dan bagaimana sikap hati Anda, menunjukkan siapa sesungguhnya Anda sebenarnya."

"Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir akan ditimpa kebinasaan” (Amsal 13:3)

Tuhan memberkati.πŸ™πŸ½πŸ™πŸ½

BAGAIMANA SIKAP KITA DALAM IBADAH?

Yohanes 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
 
Pernahkah kita mendapatkan sebuah pengalaman ketika menghadiri ibadah-kebaktian di hari Minggu, seolah-olah “tidak mendapatkan apa-apa”? Atau kita selesai ibadah merasa kurang mendapatkan “sesuatu” seperti yang kita harapkan? Mungkin kita bisa mengeluh dengan alasan yang masuk akal. Kita mungkin memberikan argumentasi, “Hari ini isi khotbah dan cara penyampaiannya kurang menarik! Atau hari ini nampaknya para pelayanan ibadah di gereja kurang persiapan dengan baik! “Hari ini lagu-lagu yang dinyanyikan kurang menyentuh pergumulan pribadi saya,” dan seterusnya.
Dalam batas-batas tertentu, saya tidak menyangkali secara mutlak akan fakta-fakta dan argumentasi di atas. Saya harus mengakui dengan jujur, saya pribadi akan merasa “terganggu” dalam ibadah, jika misalnya, pemimpin pujian (Worship Leader) tidak ada harmonisasi yang baik dengan tim pemusik. Atau tidak mudah bagi saya untuk bisa berkonsentrasi dengan baik, jika mendengarkan sebuah khotbah yang disampaikan dengan nada suara dan gaya yang sangat monoton. Saya sungguh menyadari, tidak mudah untuk mempersiapkan sebuah ibadah-kebaktian yang baik. Sudah sepatutnya, pelayan-pelayan ibadah (pengkhotbah, WL, singers, pemusik, petugas multimedia, pembaca warta, penyambut tamu, dll) perlu melakukan persiapan yang baik secara rohani dan teknis, walaupun tidak ada ibadah kita yang sempurna di mata Tuhan, karena ibadah ini juga dilakukan oleh orang-orang yang tidak sempurna, orang-orang yang juga berdosa.
Namun, satu pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah seringkali kita menuntut supaya para pelayanan ibadah menjalankan perannya dengan baik (tentu itu harapan yang baik, tidak salah juga), tetapi apakah kita yang terlibat dalam ibadah itu juga mempersiapkan diri dengan baik ketika beribadah di gereja?
 
Saya tertarik dengan pendapat Dr. Perry F. Webb (1931-2010) yang menyatakan, “Jika Anda pulang dari gereja dengan iman yang lebih kuat, harapan yang lebih cerah, kasih yang lebih mendalam, kepedulian yang lebih luas, hati yang lebih murni, dan hasrat yang lebih mantap untuk melakukan kehendak Tuhan, maka Anda sungguh-sungguh telah beribadah!”
Dengan demikian, kalau kita tidak mengalami hal-hal seperti yang ditulis oleh Dr. Perry Webb itu selesai ibadah bersama (public worship), mungkin kita belum sungguh-sungguh beribadah! Mungkin kita belum mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah dalam ibadah, atau tidak sungguh-sungguh memiliki kehausan dan kerinduan yang dalam untuk berjumpa dan mengalami Allah dalam ibadah kita.
 
Kita seharusnya menyembah, tidak asal menyembah. Kita beribadah tidak asal beribadah. Kita harus menyembah dan beribadah menurut aturan main Tuhan, dan menurut apa yang disukai Tuhan. Salah satu hal yang sangat penting, yang Tuhan inginkan ketika kita beribadah kepada-Nya adalah kita harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-24). Tanpa kita “menyembah dalam roh dan kebenaran” (worship the Lord in spirit and truth), maka ibadah kita hanya sia-sia, dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. “Menyembah Allah di dalam roh” dan “menyembah Allah dalam kebenaran,” adalah dua hal (2 frase) yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika kita kehilangan salah satu diantaranya, maka ibadah kita tidak berkenan di hadapan Tuhan. 
 
Saya mengutip penafsiran Dr. John MacArthur tentang hal ini, yaitu:
  • Menyembah Allah dalam roh, berarti menyembah Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, kasih kita, seluruh keberadaan diri kita (Bandingkan dgn. Matius 22:37-38).
  • Menyembah Allah dalam kebenaran, berarti menyembah Allah sesuai dengan firman Allah, karakter dan kehendak-Nya.
Tetapi bagaimana kita bisa menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, jika kita tidak mempersiapkan hati kita dengan baik dalam beribadah dan tidak bersikap benar dalam ibadah? Misalnya, saya mengambi beberapa contoh.
 
Pertama, kadang-kadang kita menyanyikan lagu-lagu pujian dalam ibadah, hanya sekedar keluar dari bibir mulut kita, tanpa mencoba menghayati dan merenungkan syair atau pesan dalam lagu tersebut. Kita menyanyi tidak dengan segenap hati kita. Terkadang, nyanyian kita bukan lahir dari iman dan kasih kepada Tuhan. Menyanyi lagu rohani tidak sama artinya dengan memuji Tuhan. Saya juga mencoba untuk mengevaluasi diri saya, apakah saya selama ini dalam ibadah lebih banyak jatuh dalam aktivitas “menyanyi lagu rohani”, tetapi tidak sedang memuji Tuhan, karena saya tidak menyanyi dengan segenap hati dan kasih kepada Tuhan.
 
Contoh kedua, kadang-kadang dengan “sengaja” kita telah menciptakan kondisi tubuh dan pikiran yang tidak siap untuk beribadah dengan penuh konsentrasi. Bagaimana kita bisa berkonsentrasi dengan baik dalam ibadah Minggu, jika kita Sabtu malamnya tidak tidur dengan waktu yang cukup? Akibatnya, kita ngantuk dalam ruang ibadah. Bagaimana kita juga bisa fokus dalam beribadah, jika saat beribadah kita “main” handphone, entah itu membalas whatsapp, SMS, facebook, instagram, dll yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan ibadah yang sedang kita lakukan.
 
Contoh ketiga, kita kurang memiliki kerinduan yang besar, supaya hati kita menjadi “tanah yang baik” ketika ditaburi oleh benih kebenaran firman Tuhan (Lihat Matius 13:1-23). Ketika pengkhotbah dari gereja kita menyampaikan penguraian firman Tuhan yang mungkin menegur dosa-dosa kita, kita berpikir, “Ini Hamba Tuhan sedang menyindir saya ya?” Kita sangat suka dengan ayat-ayat yang berisi janji-janji Tuhan, tetapi kurang tertarik dengan ayat-ayat yang berisi teguran dan koreksi dari Tuhan. Kita kurang memiliki hati yang terbuka terhadap kebenaran firman Tuhan.
 
Renungkanlah: “Apakah kita mau mengubah cara pandang dan sikap kita dalam beribadah, supaya kita sungguh-sungguh mengalami perjumpaan rohani dengan Allah?
 
DOA: “Ya Tuhan, ampuni kami jika kami tidak mempersiapkan hati dengan sungguh-sungguh ketika beribadah kepada-Mu. Ampuni kami, jika kami kurang menaruh hormat kepada-Mu dalam ibadah kami, padahal kami sedang menghadap Raja di atas segala raja, Tuhan Pencipta langit dan bumi. Mampukan kami, dengan pertolongan Roh Kudus untuk menyembah-Mu dalam roh dan kebenaran seperti yang Engkau inginkan. Amin.”

GOSIP

“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” (Amsal 21:23) APA ITU GOSIP? Gosip adalah menyebark...