Showing posts with label Character & Spiritual Growth. Show all posts
Showing posts with label Character & Spiritual Growth. Show all posts

GOSIP


“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” (Amsal 21:23)

APA ITU GOSIP?

Gosip adalah menyebarkan informasi yang buruk (informasi yang negatif, bukan positif) tentang orang lain yang tidak hadir dalam pembicaraan bersama kita, dan kita tidak pernah mengklarifikasi langsung informasi itu kepada orang yang sedang kita bicarakan itu. Gosip itu bisa sesuai dengan fakta, namun bisa juga belum tentu sesuai dengan fakta yang ada. Jadi, gosip bisa benar, bisa juga salah. Gosip merupakan informasi negatif yang biasanya tersebar dari mulut ke mulut, melalui pembicaraan antar orang.
Gosip adalah sebuah obrolan negatif tentang orang lain, yang merusak nama baik/reputasi orang lain, menjatuhkan orang lain, dan obrolan itu dilakukan tidak pada tempat yang semestinya, atau tidak pada orang yang seharusnya. Gosip adalah “pembunuhan” terhadap karakter seseorang.
Tidak semua informasi dan percakapan tentang hal yang negatif mengenai orang lain dikategorikan sebagai gosip. Misalnya, dalam rapat para guru di sebuah sekolah, membicarakan tentang seorang murid yang melakukan “perbuatan tidak senonoh”. Informasi negatif ini dibicarakan dalam konteks dan tempat yang tepat, yaitu dalam rapat para guru, yang sudah sepatutnya mencari solusi atau pemecahan bersama. Jadi, berbeda dengan gosip. Gosip terjadi dalam konteks yang tidak sepatutnya.
Dalam kenyataannya, seringkali gosip didasarkan pada “asumsi-asumsi, anggapan-anggapan, kemungkinan-kemungkinan yang tidak pasti”, bukan didasarkan pada fakta/kenyataan sebenarnya. Itulah sebabnya, gosip sering disebut sebagai “kabar burung.” Seringkali gosip banyak yang sudah “dibumbu-bumbui”, atau “ditambah-tambahi”. Jadi, sebenarnya yang terjadi adalah “membuat kisah/cerita baru” tentang orang lain.

APA YANG SALAH DENGAN GOSIP?
  1. Menggosip merupakan salah satu bentuk sikap menghakimi orang lain, yaitu suka atau getol mencari-cari kesalahan orang lain. (Matius 7:1-5). Suka meneropongi dan mengawasi hidup orang lain, tetapi kurang mengawasi dan mencermati hidup diri sendiri.
  2. Gosip merupakan sikap yang mencoreng atau merusak nama baik orang lain. Celakanya, kadang-kadang gosip berjalan bersamaan dengan fitnah. Gosip dan fitnah seperti “saudara kembar”. Gosip beranak- cucu.

BAGAIMANA SIKAP KITA TERHADAP GOSIP?
1.     Ingatlah: “Orang yang suka menggosipkan orang lain, biasanya suatu saat akan menggosipkan Anda juga.”
2.     Jika Anda sedang berada dalam kumpulan orang yang sedang bergosip, jika memungkinkan, tinggalkan tempat itu, atau coba alihkan topik pembicaraan.
3.     Setiap informasi yang kita terima harus ditelusuri, dan diselidiki fakta-fakta kebenarannya. Apakah ini sebuah fakta, atau hanya sebuah asumsi? (Bandingkan Ulangan 13:12-14).
4.     Karena gosip biasanya beranak-cucu, putuskanlah mata rantai gosip dimulai dari diri Anda yang mendengarnya. Jika Anda menerima informasi itu, tidak perlu Anda sebarluaskan kepada orang lain (Bdk. Amsal 26:20), cukup berhenti sampai pada diri Anda saja. Menurut, Gary Thomas, salah satu disiplin rohani yang terabaikan pada masa kini adalah belajar membatasi rasa ingin tahu yang tidak perlu, yang sebenarnya bukan wewenang dan bagian kita untuk memastikan kebenarannya.
5.     Ingat prinsip “Hukum Emas” (Golden Rule) dalam Matius 7:12. Kita ingin dihargai, hargai orang lain! Kita tidak mau digosipkan, oleh sebab itu jangan menggosipkan orang lain.

Doa: “Tuhan, seumur hidup kami akan terus belajar untuk mendengar dan berkata-kata dengan bijak. Tidak mudah bagi kami untuk melakukannya. Tuhan, kasihanilah kami. Tuhan, tolong dan mampukanlah kami. Amin.”


TUHAN, MAMPUKAN KAMI MENGAMPUNI SESAMA KAMI

Kita harus mengakui bahwa mengampuni bukanlah sifat alamiah/natural manusia berdosa. Membalas adalah sifat alamiah kita orang berdosa.
Ketika membalas, mungkin hati kita yang sakit “terpuaskan”, tetapi pembalasan tidak pernah menyelesaikan dan memutuskan rantai kebencian dan sakit hati dalam hidup kita. Pada saat kita membalas kejahatan dengan kejahatan, kebencian dibalas dengan kebencian lagi, maka sebenarnya kita bukan sedang memperbaiki keadaan,tetapi justru makin memperburuk keadaan.

Dalam Doa Bapa Kami, kebutuhan manusia akan pengampunan ditempatkan Yesus pada urutan kedua setelah kebutuhan akan makan dan minum.
Manusia bukan saja butuh makan dan minum, tetapi juga butuh pengampunan dalam hidupnya.
Dalam Doa Bapa Kami dikatakan, “dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:12). 


Kalimat itu bukan berarti Allah mengampuni kita oleh karena kita juga mengampuni orang lain. 
Kalimat itu bukan berarti untuk mendapatkan pengampunan dari Allah, kita harus terlebih dahulu bisa mengampuni orang lain. Kita diampuni oleh Allah, semata-mata karena kemurahan dan belas kasihan-Nya terhadap kita melalui Kristus, bukan karena jasa dan amal baik kita. Tetapi yang Yesus maksudkan dalam doa ini adalah jika kita tidak mau mengampuni orang lain, maka kita sebenarnya tidak mengakui betapa besarnya pengampunan Allah bagi kita.
Jika kita tidak mau mengampuni, kita tidak menghargai dan menghayati nilai dari pengampunan Allah. Sikap tidak mau mengampuni orang lain memperlihatkan bahwa kita adalah orang yang keras hati, tidak ada penyesalan, tidak ada pertobatan, tidak ada kehancuran hati sebagai orang berdosa yang sudah terlebih dahulu mengalami pengampunan yang tak terbatas dari Allah.

Jika kita bisa jujur dan objektif melihat ke dalam diri kita sendiri, sebenarnya dosa dan kesalahan yang kita lakukan terhadap Allah jauh lebih besar, jauh lebih banyak, dan jauh lebih sering, jika dibandingkan dengan kesalahan yang orang lain perbuat terhadap diri kita. Saya sungguh sadar jika luka hati itu begitu dalam, tidak mudah sembuh begitu saja. Saya tidak ingin menyepelekan pergumulan orang lain.
Namun kita harus sadar, betapapun sakitnya hati kita akibat dilukai atau dihina oleh orang lain, semua itu tetap jauh lebih kecil jika dibandingkan kita sudah menyakiti hati Tuhan.

Pernahkah kita mencoba menghitung, selama sekian puluh tahun kita hidup di dunia ini sampai sekarang, kira-kira berapa kali kita sudah berdosa kepada Tuhan, baik melalui hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan kita? Sangat banyak! Karena begitu banyaknya, kita tidak bisa menghitung dan mengingatnya lagi.
Berapa kali kita telah menyakiti hati Tuhan? Terlalu sering dan terlalu banyak! Berapa kali kita minta pengampunan kepada Tuhan? Sangat sering dan sangat banyak!
Jika Allah sedemikian murah hati kepada kita, mengampuni kita dengan pengampunan yang tidak terbatas, mengapa kita justru membatasi pengampunan kita kepada orang lain? Mengapa kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain?

Firman Tuhan dalam Efesus 4:31-32 menyatakan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” 
Jadi, pengampunan Allah yang kita terima di dalam dan melalui Yesus Kristus, menjadi dasar perintah supaya kita mengampuni orang lain. God is the Great Forgiver!
Ada orang yang beranggapan, kalau kita benar-benar sudah mengampuni seseorang, maka kita harus bisa melupakan kesalahan orang itu. Kalau kita masih ingat kesalahan yang orang lain lakukan kepada kita, berarti kita belum sungguh-sungguh mengampuni. Ini pandangan yang keliru.

Manusia diciptakan dengan memiliki daya ingat/memori. Misalnya, jika pasangan kita (suami/istri) berselingkuh dan bersetubuh dengan orang lain, lalu pasangan kita itu bertobat, dan kita mengampuninya, mungkinkah kita bisa melupakan pengkhianatan yang pernah dilakukan oleh pasangan kita itu? Tentu tidak! 


Mengampuni berarti kita tidak menyangkali bahwa orang itu pernah menyakiti dan melukai hati kita, tetapi ingatan itu tidak membuat kita sakit hati, dendam, atau benci lagi kepada orang itu. Ingatan itu tidak menjadi problem lagi bagi kita, ketika kita berelasi dengan orang yang sudah kita ampuni. Dulu sebelum mengampuni, kita ingat kesalahan orang itu, dan timbul kebencian, kepahitan, dan amarah dalam diri kita. Namun, ketika kita mengampuni, kita juga tetap masih ingat kesalahan yang diperbuatnya, tetapi kita sekarang telah terbebas dari kepahitan, terlepas dari dendam dan kebencian.
Mengampuni tidak sama dengan melupakan kesalahan orang (Forgiving is not forgetting).Tidak semua jenis kesalahan orang bisa kita lupakan begitu saja.

Dalam kenyataan dan praktiknya, pengampunan yang sesungguhnya lebih kepada sebuah proses yang memerlukan tahapan dan proses waktu.
Ketika kita mengampuni, seringkali hati kita berontak untuk melakukannya, apalagi jika luka hati itu begitu dalam. Itulah sebabnya, seringkali pengampunan bukanlah sebuah “tindakan sekali jadi, dan langsung beres”, tetapi pengampunan lebih kepada sebuah “proses”.
Kadang-kadang, kita harus menanggalkan kepahitan dan kebencian dalam diri kita itu berkali-kali, sebelum akhirnya kita dibebaskan sepenuhnya dengan pertolongan Tuhan.

"Musuh kita yang sesungguhnya bukanlah orang yang melukai kita, bukan orang yang menyakiti hati kita, bukan orang yang memfitnah kita, atau orang yang mencoreng nama baik kita, tetapi musuh kita yang sesungguhnya adalah KEBENCIAN yang ada di dalam diri kita sendiri."
Henri Nouwen (1932-1996) menyatakan: "Pengampunan adalah kasih yang dipraktikkan di tengah-tengah orang yang kurang mengasihi.”
Ketika kita mengampuni, berarti kita sedang menyatakan kemurahan, belas kasihan, dan kebaikan kepada orang lain.
Pada saat kita tidak mengampuni, kita kehilangan sifat kemurahan dan belas kasihan dalam diri kita kepada orang lain. Ketika kita mengampuni, kita sedang menaburkan perdamaian dalam hidup ini. Namun, ketika kita tidak mengampuni, kita akan terus menaburkan kebencian dan pertikaian yang tidak ada habis-habisnya. Sekarang pilihan ada di tangan kita. 

Kita mau hidup dalam pengampunan atau tidak. 
Mau tetap hidup terpenjara dalam kebencian atau hidup dalam kelegaan dan kebebasan.
Mau hidup dalam dendam, atau hidup dalam anugerah. 

Mau hidup dalam kepahitan atau sukacita. 

Salah satu ciri atau tanda orang yang makin dewasa rohaninya adalah orang itu akan lebih cepat mengampuni.

Marilah kita terus berdoa kepada Tuhan, supaya kemurahan dan belas kasihan-Nya memenuhi hati kita, sehingga kita dimampukan untuk hidup saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus sudah terlebih dahulu mengampuni kita dengan pengampunan-Nya yang tak terbatas.

Marilah kita memberikan diri kita sendiri, menjadi saluran kasih dan pengampunan Tuhan bagi sesama kita. Memang sungguh tidak mudah, tetapi Tuhan akan menolong setiap orang yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya.

"Tuhan, kasihanilah kami. Tuhan, mampukanlah kami.” Amin.πŸ™πŸ½πŸ™πŸ½

MEMBICARAKAN "KEKURANGAN" ORANG LAIN




Ada kata-kata bijak yang mengatakan demikian:

"Hal-hal yang kamu katakan tentang orang lain, sebenarnya mengatakan banyak hal tentang dirimu sendiri."
Kata-kata bijak di atas patut kita renungkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ketika kita membicarakan orang lain, khususnya berkaitan dengan kekurangan, kelemahan atau kejelekan orang lain (kadang-kadang itu pun belum tentu sepenuhnya benar), kita perlu berhati-hati dan bersikap bijaksana.

Minimal ada 3 pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri kita sendiri, ketika kita ingin membicarakan atau menerima informasi tentang "kejelekan orang lain":

1. Apakah hal yang kita bicarakan itu benar dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya di hadapan Tuhan? Apakah kita tahu persis duduk persoalan sebenarnya?

2. Apa motivasi dan tujuan kita membicarakan hal itu? Apakah tujuannya baik? Apakah didasari motivasi yg murni dan kasih yang tulus?

3. Apakah hal yang dibicarakan itu dalam konteks yang tepat?
Apakah hal itu lebih tepat dibicarakan dalam relasi secara personal?
Atau apakah hal itu lebih tepat hanya dibicarakan dalam rapat saja?
Atau apakah hal itu juga perlu diketahui dalam lingkaran yang lebih luas, yaitu konsumsi publik?

4. Apakah kita memahami dampak/akibat dari apa yang kita katakan tentang orang lain itu?
Apakah kita menjadi penyebar gosip atau pemutus rantai gosip?

Mari kita lebih berhati-hati ketika berbicara tentang orang lain, maupun ketika menerima informasi tentang "kekurangan" orang lain.

Jangan mudah terprovokasi, jangan mudah "dikompori," jangan mudah percaya begitu saja, sekali pun hal itu berasal dari pasangan Anda.
Namun, kita juga perlu belajar untuk bersikap netral atau tidak memihak, terhadap hal-hal yang kita sendiri belum tahu kebenarannya secara pasti.

Kita akan menpertanggungjawabkan setiap kata-kata, sikap, dan hidup kita di hadapan Tuhan.

"Bagaimana Anda berkata-kata dan bagaimana sikap hati Anda, menunjukkan siapa sesungguhnya Anda sebenarnya."

"Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir akan ditimpa kebinasaan” (Amsal 13:3)

Tuhan memberkati.πŸ™πŸ½πŸ™πŸ½

RELIGIUS TETAPI TIDAK SPIRITUAL


21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 
22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23)

Richard Foster mengawali bukunya Celebration of Disciplines dengan sebuah kalimat yang mengingatkan kita semua: Superficiality is the curse of our age” (Superfisialitas merupakan kutukan di zaman kita). Kita hidup di era superfisial, era yang mementingkan kehidupan lahiriah, hal-hal yang nampak di permukaan, era kosmetik, era hidup yang penuh dengan topeng. Kita mengenakan berbagai topeng untuk menutupi diri kita yang sebenarnya. Kita mungkin pura-pura berdoa, pura-pura produktif bekerja, mungkin pura-pura aktif melayani, pura-pura peduli dengan orang lain, mungkin pura-pura cinta Tuhan. Terus-menerus berpura-pura.  Padahal kita melakukan semua itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, tetapi untuk kemuliaan diri sendiri, dan untuk memenuhi kebutuhan ego kita. Oleh sebab itu, bagi saya, perkataan Sigmund Freud dalam batas-batas tertentu ada benarnya juga, walaupun tidak sepenuhnya benar. Dia menyatakan, Manusia beragama sebenarnya sedang menciptakan Allah bagi diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan ego sendiri. Allah adalah proyeksi dari kebutuhan manusia.”
Cuplikan khotbah Tuhan Yesus dalam Matius 7:21-23 ini adalah khotbah yang keras dan tajam. Tuhan Yesus mengingatkan ada sebagian orang yang merasa dirinya rohani, karena merasa diri sudah “dipakai” oleh Tuhan secara luar biasa, bahkan memiliki “prestasi-prestasi” pelayanan yang dikerjakan atas nama Tuhan. Mereka bernubuat, mengusir setan dan melakukan banyak mujizat demi nama Yesus Kristus.
Mungkin dalam konteks kehidupan bergereja di zaman sekarang, orang-orang ini berkata kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, Tuhan, bukankah kami melayani demi nama-Mu? Kami mau menyibukkan diri demi nama-Mu? Bukankah kami menjadi Hamba Tuhan, menjadi majelis, menjadi pelayan gereja demi nama-Mu? Bukankah kami menjadi panitia, worship leader, pemusik, usher, dan sebagainya, semua itu kami lakukan demi nama-Mu?”
Sejujurnya, hati saya gelisah, jika membayangkan seandainya dialog seperti ini terjadi antara saya dan dengan Tuhan Yesus sendiri, sebagai Hakim Tertinggi dalam hidup saya.
Apa yang salah dengan orang-orang yang digambarkan Yesus dalam Matius 7 ini, sehingga Tuhan Yesus menolak mereka? Ada 2 alasan utama yang diberikan dalam bagian ini:

1. Mereka tidak melakukan kehendak Allah dalam hidup mereka (ayat 21).
Yang terjadi pada orang-orang ini adalah mereka memanggil dan memuja-muja Yesus dengan gelar yang agung dan santun dengan sebutan “Tuhan”. Mereka berseru dengan penuh antusias dan semangat, “Tuhan, Tuhan!” Bahkan mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang mengesankan atas nama Tuhan Yesus. Tetapi pengakuan mereka hanya sekadar di bibir atau di mulut saja. Tujuan pelayanan mereka hanya untuk mengesankan orang lain, supaya orang lain kagum kepada mereka. Hidup mereka jauh dari kehendak Tuhan. Mereka melakukan pelayanan untuk memuaskan diri sendiri, bukan untuk memuaskan hati Allah, dan bukan untuk melakukan kehendak Allah. Kita perlu waspada, kita bisa sibuk dengan kegiatan-kegiatan rohani, tetapi hidup kita sendiri tidak rohani di mata Tuhan.

2. Mereka tidak memiliki relasi pribadi dengan Tuhan Yesus (ayat 23).
Yesus tidak pernah kenal mereka! Istilah Yesus “tidak pernah kenal” mereka, bukan dalam pengertian Yesus tidak tahu siapa mereka, seperti kita bertemu dengan orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya. Yesus dalam keilahian-Nya, Dia sebagai Tuhan, tentu mengenal sedalam-dalam siapa mereka, baik hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan mereka. Tetapi “Yesus tidak pernah kenal mereka” dalam bahasa aslinya (Yunani) memiliki arti “Yesus tidak pernah memiliki hubungan/relasi yang intim dengan mereka”. Yesus tidak pernah memiliki hubungan personal dengan mereka. No relationship with Jesus Christ.
Mereka memang dari semula tidak pernah dipersatukan dengan Kristus. Mereka tahu tentang Yesus, tetapi Yesus tidak ada dalam hati mereka. Di bibir mulut mereka mengatakan Yesus adalah Tuhan mereka, tetapi Yesus tidak pernah menjadi Tuan yang memimpin dan mengendalikan arah hidup mereka. Mereka adalah murid-murid Kristus yang palsu, domba-domba palsu, yang mengaku-ngaku sebagai murid Kristus. Mereka sejak semula tidak pernah mengalami kelahiran baru dan pertobatan sejati dalam hidup mereka.
Kita perlu waspada, jangan sampai kita menjadi orang yang religius, tetapi tidak spiritual. Kita hanya terjebak pada tingkah laku beragama yang lahiriah (ke gereja, berdoa, membaca Alkitab, terlibat kegiatan pelayanan, dll), tetapi kita mengabaikan esensi kerohanian yang sesungguhnya, yaitu hidup bertumbuh makin serupa Kristus. Kita bisa aktif dalam kegiatan gereja, tetapi kita mengabaikan area-area buruk dalam karakter kita, dan mengabaikan hukum-hukum Tuhan dalam hidup kita. Kita mengenakan atribut-atribut kekristenan, tetapi kita mengabaikan kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama.
Kita perlu waspada, jangan sampai kita hanya berfokus pada “doing for God”, kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, melakukan ini dan itu, hanya sibuk ini dan itu, tetapi kita mengabaikan “being”, yaitu apakah kita sudah menjadi manusia yang Tuhan inginkan.
Orang-orang yang digambarkan Yesus dalam Matius 7:21-23 adalah orang-orang yang “doing for God” secara luar biasa, tetapi semua itu dilakukan bukan hasil relasi personal yang intim dengan Tuhan, dan mereka mengabaikan hukum-hukum Allah dalam hidup mereka.
Kita tidak dipanggil menjadi orang yang hanya religius, tetapi tidak spiritual. Kita dipanggil menjadi orang yang religius dan sekaligus spiritual. Perilaku lahiriah beragama kita haruslah merupakan buah atau hasil dari relasi kita yang intim dengan Tuhan, dan kasih yang dalam kepada Tuhan.

Tuhan, tolonglah kami, dan mampukanlah kami untuk hidup dalam kebenaran firman-Mu. Tuliskanlah firman-Mu dalam loh hati kami. Amin.

ASUMSI YANG KELIRU TENTANG PERTUMBUHAN ROHANI

Ada beberapa asumsi keliru yang cukup sering digunakan untuk “mengukur” pertumbuhan rohani seseorang, salah satu diantaranya adalah asumsi yang beranggapan bahwa meningkatnya pengetahuan seseorang tentang isi Alkitab sama dengan meningkatnya pertumbuhan rohani seseorang. Jika asumsi yang digunakan ini sepenuhnya benar, maka para Ahli Taurat dan Farisi yang hidup di zaman Yesus akan memiliki pertumbuhan rohani yang jauh lebih baik dibandingkan dengan para pengikut Yesus pada zaman itu. Jika asumsi ini benar, maka para rohaniwan atau Sarjana Teologi akan memiliki pertumbuhan rohani yang jauh lebih baik daripada jemaat awam yang tidak pernah mendapatkan pendidikan formal di sekolah teologi. Jika asumsi ini benar, maka pertumbuhan rohani yang baik, hanya dimiliki secara eksklusif oleh orang-orang yang mempunyai pengetahuan dan keahlian khusus dalam mempelajari dan menafsirkan Alkitab. Namun, dalam kenyataannya, benarkah demikian? Jelas tidak!
Kritikan dan teguran yang paling keras yang diberikan oleh Yesus yang dicatat dalam Injil, justru bukan kepada para pemungut cukai, penzinah, atau “para pendosa” yang dianggap sangat hina dan sampah masyarakat pada masa itu, tetapi justru kepada para Ahli Taurat dan Farisi yang paling sering menyebut nama Tuhan, tetapi hatinya jauh dari Tuhan (Matius 23:1-36). Mereka adalah orang-orang yang merasa dirinya paling dekat dengan Tuhan, tetapi hidup mereka sebenarnya tidak berkenan di hadapan Tuhan. Mereka merasa dirinya sudah diselamatkan, tetapi sebenarnya hati mereka tidak pernah mengalami anugerah Allah yang menyelamatkan dan mengubahkan itu.
John Ortberg dalam bukunya “The Life You’ve Always Wanted” (Kehidupan yang Selalu Anda Dambakan) menyatakan, “Pikirkan siapa saja yang Anda kenal, yang pengetahuan Alkitabnya katakanlah sepuluh kali lebih banyak daripada orang-orang yang jarang ke gereja. Lalu tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah orang ini sepuluh kali lebih mengasihi, sepuluh kali lebih sabar, dan sepuluh kali lebih bersukacita daripada orang yang jarang ke gereja.”
Selama 4 tahun saya kuliah di Sekolah Teologi, salah satu pengalaman berharga yang saya dapatkan adalah ternyata menyukai isi Alkitab tidak sama dengan mengasihi Allah, mempelajari isi Alkitab tidak sama dengan mendengarkan Allah, karena kita bisa terjebak menjadi para Ahli Taurat dan Farisi-Farisi modern, yang setiap hari membaca dan menyentuh Kitab Suci, tetapi tidak mau mengasihi dan mendengarkan Allah.
Jangan salah paham, saya tidak mengatakan bahwa pengetahuan Alkitab yang baik tidak diperlukan untuk pertumbuhan rohani. Minimnya pengetahuan isi Alkitab yang dimiliki oleh seseorang bisa menjadi salah satu tanda atau indikator rendahnya ketertarikan seseorang untuk lebih mengenal Allah dan firman-Nya. Namun, point yang ingin saya tekankan adalah hanya sekadar memiliki pengetahuan Alkitab saja, tidak cukup untuk membawa seseorang kepada perubahan hidup dan pertumbuhan rohani.
Sebenarnya kesalahan bukan terletak pada pengetahuan Alkitabnya, tetapi pada motivasi dan sikap hati yang salah terhadap firman Allah, diantaranya adalah:
1. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Simon Chan dalam bukunya “Spiritual Theology” bahwa “Sistem pendidikan kita cenderung melatih kita membaca semata-mata untuk mendapatkan informasi dan keterampilan saja.”
Seringkali sikap hati kita dalam membaca Alkitab hanya untuk mendapatkan informasi, bukan untuk transformasi (pembaharuan hidup dan hati yang diubahkan). Motivasi kita membaca Alkitab haruslah selalu kasih dan ketaatan kepada Tuhan.
Kita mungkin bisa setiap hari baca Alkitab, tetapi tetap mengabaikan area-area buruk dalam hidup kita, dimana Allah sebenarnya mau menyentuh dan mengubah are-area itu. Kita bisa tetap menganggap enteng dan remeh dosa-dosa, misalnya: iri hati, sulit mengakui kelemahan diri sendiri dan kelebihan orang lain, cinta uang, kebencian, gampang tersinggung, pemarah, keangkuhan rohani, merasa diri sudah banyak tahu dan  pengalaman, suka menilai tetapi sedikit belajar, lebih suka mengoreksi orang daripada dikoreksi orang lain, hanya suka khotbah yang menghibur dan tidak suka khotbah yang mengoreksi, cepat berkata-kata tetapi lambat untuk mendengar, suka merasionalisasi kesalahan diri sendiri, suka berprasangka buruk terhadap orang lain, suka “menyerang” orang lain, cenderung hanya menjadi “penyenang orang” (people-pleasers) daripada “penyenang Allah” (God-pleasers), dan seterusnya.
Kita juga perlu waspada dengan area “titik-titik buta” (blind spots) dalam hidup kita, yaitu kelemahan/keburukan dalam diri kita dimana orang lain tahu, tapi celakanya kita sendiri “tidak tahu” hal itu. Area-area tertentu dimana kita buta terhadap diri kita sendiri. Kita harus terus-menerus menyadari bahwa fokus Allah dalam hidup kita adalah keserupaan dengan karakter Kristus melalui pertolongan Roh Kudus dan firman Allah yang membersihkan hati kita dari yang jahat.
2. Kita mungkin jarang berdoa dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus meminta satu hal ini, yaitu supaya Tuhan memberikan kepada kita hati yang haus akan Allah dan firman-Nya. Mungkin doa kita selama ini terlalu berpusat pada keegoisan diri sendiri, terlalu banyak berbicara kepada Allah, tetapi kurang peka untuk meneduhkan hati dan hening di hadirat-Nya mendengarkan Allah berbicara dalam hidup kita. Kita mungkin tidak pernah menangisi kondisi kerohanian diri kita sendiri di hadapan Allah, kondisi kerohanian kita yang begitu dangkal kerinduan akan Allah dan firman-Nya. Kita merasa kerohanian kita “baik-baik” saja.

Mari kita menghampiri Alkitab bukan dengan sikap seperti seorang “ahli Alkitab” (sekalipun metode menafsir tentu penting), tetapi dengan sikap seorang murid, yang datang dengan keterbukaan kepada Allah, sikap mendengar dengan rendah hati, membaca dengan hati yang bertobat, dan kesediaan untuk tunduk dan taat kepada firman-Nya. Orang-orang yang mempunyai sikap hati seorang murid seperti inilah yang disebut Yesus sebagai, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Lukas 11:28). Amin.

“MURID KRISTUS: MENDENGAR DAN MELAKUKAN FIRMAN” (Matius 7:24-27)


Robert Banks, Ph.D. dari University of Cambridge pernah melakukan sebuah penyelidikan, ternyata seringkali ditemukan kesenjangan antara “apa yang diimani” dengan “apa yang dilakukan” oleh orang-orang Kristen dalam hidupnya sehari-hari”(the gap between Belief and Daily Life). Robert Banks menyimpulkan:

  1. Sedikit sekali orang Kristen yang mampu mengaplikasikan apa yang diimaninya dalam dunia kerja atau dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Sikap hidup sehari-hari lebih dominan dibentuk oleh nilai-nilai masyarakat dimana mereka tinggal daripada dibentuk oleh nilai-nilai firman Tuhan.

Matius 7:24-27 ini juga berbicara tentang kesenjangan antara “apa yang didengar dan yang diketahui” dengan “apa yang dilakukan” dalam hidup sehari-hari. Yesus mengilustrasikan ada 2 jenis orang, yang keduanya sama-sama membangun rumah. Dilihat dari luar, kedua rumah yang dibangun itu mungkin sama-sama bagus dan indah. Tetapi apa yang membedakan kedua rumah itu? Yang membedakannya adalah fondasi atau dasarnya. Rumah jenis pertama didirikan “di atas batu”, sedangkan rumah jenis kedua didirikan “di atas pasir.” Menurut Dr. John MacArthur, istilah “batu” (Yunani: petra; Inggris: rock) dalam ayat 24 ini, bukan dalam arti sebuah batu besar, tetapi merujuk pada lapisan tanah yang keras dan kokoh. Jenis tanah seperti ini solid, stabil, dan tidak mudah bergeser. Sedangkan rumah jenis kedua dibangun di atas pasir, fondasi jenis tanahnya rapuh dan tidak kokoh.
Bagian ini bukan sedang mengkontraskan antara orang Kristen dengan yang bukan Kristen. Ayat ini berbicara tentang 2 jenis orang Kristen yang sama-sama mendengarkan firman Allah, tetapi memiliki sikap atau respons yang berbeda terhadap firman. Fokus bagian ini adalah bagaimana sikap kedua jenis orang ini terhadap firman Tuhan yang mereka dengar, dan apa yang menjadi fondasi kehidupan iman mereka.
Kedua jenis orang ini memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama mendengarkan firman Tuhan. Dalam konteks masa kini, kedua jenis orang ini sama-sama mendengarkan khotbah di gereja, sama-sama membaca Alkitab, dan menghadiri Seminar Kristen, namun perbedaannya adalah orang yang satu melakukan apa yang didengar dan yang dipelajarinya (menghidupi firman), sedangkan orang yang satu lagi, mengabaikan dan tidak melakukan firman yang didengarnya dalam hidup sehari-hari.
Semua orang mungkin bisa baca Alkitab. Semua orang bisa dengar khotbah. Semua orang bisa belajar firman. Tetapi masalahnya adalah apakah kita sungguh-sungguh mau bergumul untuk melakukan firman yang kita dengar dan kita ketahui? Iman bukan sekadar berbicara tentang tahu mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang salah. Iman bukan sekadar persetujuan intelektual terhadap doktrin-doktrin tertentu dalam kekristenan. Iman lebih dari itu. Alkitab berbicara tentang iman yang menyelamatkan dan juga sekaligus iman yang menguduskan, yaitu iman yang membuahkan perbuatan-perbuatan baik dan membuahkan kekudusan hidup. Yudas Iskariot pernah mendengarkan khotbah yang paling baik dari pengkhotbah yang terbaik, yaitu Yesus Kristus. Yudas Iskariot pernah dididik dan diajar langsung oleh seorang Rabbi, Guru yang terbaik dalam sejarah, yaitu Yesus Kristus. Namun, Yudas Iskariot tidak berakar di dalam firman, dan tidak hidup di dalam firman.
Kita membangun fondasi kehidupan iman Kristen kita di atas dasar apa? Apakah di atas pasir yang rapuh, atau di atas batu yang kokoh? Salah satu hal yang dapat menjadi ujian untuk melihat hal itu adalah bagaimana sikap kita terhadap krisis atau badai kehidupan yang sedang melanda hidup kita. Tuhan sendiri pada akhirnya yang akan menguji dan menyingkapkan, apakah hidup kekristenan kita dibangun di atas dasar batu, atau pasir. Pada saat hidup ini susah, sakit-penyakit menimpa kita, musibah demi musibah datang silih berganti, pergumulan berat tidak ada habis-habisnya, bagaimana sikap kita di dalam menghadapi semua itu?
Saya setuju dengan Dr. John MacArthur yang menyatakan, “Kesulitan dan pergumulan hidup seringkali menyingkapkan apa sesungguhnya yang paling kita cintai dalam hidup ini.” Orang yang ternyata mencintai “berkat jasmani dari Tuhan” lebih daripada diri Tuhan sendiri sebagai Sumber Pemberi Berkat, akan mengalami iman yang goncang ketika “berkat-berkat” itu diambil oleh Tuhan dari dirinya.  Ada sebagian orang Kristen yang fokus hidupnya adalah mencari “keuntungan-keuntungan” yang bisa didapat dari diri Allah daripada “mencari diri Allah sendiri” (Seeking the benefits of God, not “Seeking God Himself”). Tidak sedikit orang Kristen yang hanya fokus pada “pemberian berkat dari Allah”, lalu melupakan dan mengabaikan Sang Pemberi Berkat, yang justru lebih utama.
Orang yang membangun kehidupan imannya di atas dasar Kristus dan firman-Nya, orang yang menghidupi firman; ketika badai kehidupan datang, mungkin dia bisa goncang, bisa goyah, hatinya menjerit dan menangis, pedih dan perih, tetapi “rumah imannya” tidak akan rubuh dan hancur. Sebaliknya, orang yang membangun “rumah imannya” pada kekuatan diri sendiri, atau mengikut Tuhan Yesus dengan motivasi keliru, maka ketika badai kehidupan datang, rumah itu akan rubuh dan hancur, karena dibangun di atas fondasi yang rapuh. Mari kita dengan jujur dan rendah hati di hadapan Tuhan, mengevaluasi diri kita sendiri: Kita termasuk golongan yang mana? Tuhan menolong kita. 

GOSIP

“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” (Amsal 21:23) APA ITU GOSIP? Gosip adalah menyebark...