Showing posts with label Prayer. Show all posts
Showing posts with label Prayer. Show all posts

KEKELIRUAN DALAM HAL BERDOA


Apakah berdoa itu mudah? Bagi sebagian orang yang baru bertobat percaya Yesus dan baru mengenal kekristenan, mungkin berdoa itu bukan hal yang mudah, apalagi kalau diminta memimpin doa di depan umum (publik).
Namun, bagi sebagian orang lagi, mungkin berdoa itu hal yang mudah, apalagi jika orang itu sudah terbiasa memimpin doa secara spontan di depan umum, dan memiliki kemampuan untuk dapat merangkai kata-kata yang indah dan bagus saat berdoa.
Namun, pernahkah kita mencoba bertanya, “Apakah setiap doa-doa kita pasti disukai oleh Tuhan? Apakah setiap doa-doa yang kita panjatkan dengan fasih, lancar, dengan kata-kata yang indah, intonasi suara yang bagus, dirangkai dengan kata-kata yang secara teologis sangat Alkitabiah, apakah semua doa seperti itu pasti berkenan di hati Tuhan? Apakah doa hanya sebatas kata-kata?”

Dr. Edmund Chan, dalam bukunya “Growing Deep  In God: Integrating Theology and Prayer” menyatakan,
“Sebenarnya, tidak ada satupun orang Kristen yang bisa berkata bahwa dirinya  sudah “expert” (ahli) dan “professional” dalam hal berdoa.” 

Mungkin kita bisa berkata, “Orang itu itu “expert” (ahli) memainkan gitar! Dia seorang gitaris yang professional! Kita juga mungkin bisa berkata, “Orang itu “expert” (ahli) dalam hal menari. Dia seorang penari yang professional!”
Tetapi bisakah kita mengatakan orang Kristen itu “expert” (ahli) dan professional dalam hal berdoa?

Dr. Edmund Chan mengingatkan kita, bahwa dalam dunia bisnis, dunia olahraga, dunia hiburan, dan yang lainnya, kita bisa memberikan label “expert” dan “professional” kepada seseorang, tetapi dalam hal berdoa, tidak seorang pun yang bisa mengklaim bahwa dirinya seorang yang “expert” dan “professional”, termasuk saya yang sedang membahas topik ini.
Mungkin seseorang bisa saja memiliki segudang pengetahuan yang luar biasa tentang doa, dia ahli membahas topik tentang doa (itupun sebenarnya tidak salah), tetapi tidak secara otomotis orang yang ahli membahas topik tentang doa akan selalu memiliki kehidupan doa yang berkenan di hati Tuhan.
Semua kita, termasuk saya, terus-menerus menjadi pembelajar dalam hal berdoa. Seumur hidup kita akan terus-menerus belajar berdoa. Mengapa demikian?

Pertama, karena berdoa bukan sekedar berbicara masalah “kata-kata” kepada Tuhan, tetapi berdoa juga berbicara masalah sikap hatidan motivasi di hadapan Tuhan. Dan kita harus mengakui dengan jujur, di dalam natur keberdosaan kita, betapa sulitnya untuk menjaga hati kita senantiasa bersih di hadapan Tuhan! Tuhan Yesus menegur sebagian orang yang berdoa dengan motivasi untuk mengesankan orang lain, untuk pamer kesalehan diri, atau berdoa dimotivasi untuk mencari pujian dari manusia (Matius 6:5-6).
Doa bukanlah ajang untuk memamerkan kefasihan lidah kita. Doa bukanlah ajang untuk memamerkan begitu puitisnya kata-kata doa kita. Doa bukanlah ajang untuk memamerkan betapa bagusnya intonasi suara kita saat berdoa. Point yang ingin saya tekankan adalah jangan sekali-kali berdoa dengan motivasi untuk “pamer.”
Pada saat kita berdoa untuk pamer, maka kita telah salah arah. Kita telah memfokuskan perhatian kita dan menujukan doa kita kepada pendengar, kepada publik ataujemaat, bukan kepada Allah yang seharusnya menjadi pusat doa kita. Namun penjelasan saya tidak berhenti sampai di sini.

Jika ada orang yang berdoa dengan fasih, dengan kata-kata yang bagus, puitis, intonasi suaranya bagus, tidak berarti orang itu pasti selalu sedang pamer dalam berdoa. Karena hal ini berkaitan dengan motivasi, menyangkut isi hati manusia, maka biarlah kita serahkan hal ini menjadi urusan pribadi orang itu dengan Tuhan. Biarlah tiap-tiap orang menguji hatinya di hadapan Tuhan ketika dia berdoa.
Jangan kita menghakimi, atau mencurigai  doa-doa yang dipanjatkan seperti itu. Janganlah kita masuk ke dalam wilayah yang bukan wewenang kita, yang bukan bagian kita, sehingga kita jatuh ke dalam dosa dengan menempatkan diri seperti Allah yang Maha Tahu isi hati orang. Karena memang ada orang-orang tertentu yang mampu merangkai kata-kata dengan begitu baik, secara alamiah, spontan, tanpa punya motivasi untuk pamer diri. Bukankah kitab Mazmur juga banyak berisi doa-doa dalam bentuk puisi? Sekali lagi, biarlah kita tidak berprasangka buruk terhadap hal-hal seperti itu.

Kedua, ada godaan bagi kita, berdoa hanya semata-mata sebuah “kebiasaan rohani” tanpa disertai dengan sikap hati yang sungguh-sungguh menyembah dan mengasihi Tuhan. Berdoa cuma basa-basi saja, keluar dari bibir, tetapi tidak berasal dari hati yang tulus dan penuh kejujuran untuk mencari kehendak Allah. Tuhan tidak menyukai doa yangsemata-mata mekanis dan ritual belaka; asal berkata-kata, tetapi tidak keluar dari hati yang tulus untuk mencari Allah (Matius 6:7-8). Misalnya, mungkin dalam doa kita berkata, “Jadilah kehendak-Mu!” Tetapi dalam kenyataannya, kita mencari dan memprioritaskan kehendak diri kita sendiri, bukan kehendak Tuhan. Kita tidak tulus untuk sungguh-sungguh mau tunduk pada kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Bahkan, adakalanya kita bisa jatuh ke dalam kesalahan, berdoa dengan kata-kata yang seolah-olah mengungkapkan kerendahan hati kita, tetapi sesungguhnya dalam lubuk hati yang paling dalam, kita penuh dengan keangkuhan rohani. Manusia mungkin tidak bisa melihat hal itu, tetapi Allah Maha Tahu dan Maha Melihat.



Dr. Simon Chan, seorang dosen di Trinity Theological College, Singapore menyatakan, “Biarlah hatimu mengatakan kepadamu apa yang ingin engkau katakan kepada Allah, dan katakanlah dengan sederhana tanpa terganggu dengan kata-katanya. Merupakan sebuah kebodohan jika kita ingin  menyombongkan diri dalam doa di hadapan Allah”.

Kiranya Tuhan menolong kita, jangan sampai sambil berdoa, kita sambil berdosa di hadapan Tuhan, dalam artian, doa-doa kita justru mendukakan hati Tuhan, karena sikap hati kita tidak berkenan di hadapan-Nya.

“Ya Tuhan, betapa sulitnya kami menjaga hati kami untuk senantiasa bersih di hadapan-Mu! Tuhan, kasihanilah kami. Tuhan, ampunilah kami. Tuhan, ajarilah kami berdoa sesuai dengan kehendak-Mu!” Amin.πŸ™πŸ½πŸ™πŸ½

MENJADI JAWABAN DOA BAGI PERGUMULAN ORANG LAIN

Di Amerika Serikat yang penduduknya mayoritas beragama Kristen, pernah diadakan sebuah survei dengan mengajukan sebuah pertanyaan, yaitu: “Ketika berdoa secara pribadi kepada Tuhan, hal-hal apa saja yang paling sering Anda minta kepada Tuhan?” 

Hasil survei ini dimuat dalam Majalah Newsweek edisi Maret 1997,  hasilnya adalah:



  • 82% responden berdoa untuk minta kesehatan dan kesuksesan.
  • 79% mereka percaya bahwa Tuhan akan memberikan mujizat kesembuhan, jika mereka sungguh-sungguh berdoa.
  • 73% berdoa untuk kebutuhan mereka dalam mencari pekerjaan yang baik.

Sungguh tidak salah jika kita berdoa supaya Tuhan menolong kita menjawab kebutuhan dan pergumulan hidup kita. Sungguh baik dan manusiawi sekali jika kita menaikkan doa-doa seperti ini: “Tuhan berikan aku kesehatan supaya aku dapat bekerja dengan baik. Tuhan berkati bisnisku, berkati pekerjaanku supaya aku dapat menafkahi keluargaku dengan baik. Tuhan, tolong sembuhkan penyakitku.” 
Itu doa yang baik, karena dalam Doa Bapa Kami, kita pun diajarkan untuk berdoa bagi kebutuhan fisik kita, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” 
Rasul Paulus pun di tengah pergumulannya tentang “duri dalam daging” yang dialaminya, dia juga berseru berdoa memohon kelepasan dari Tuhan, sekalipun Tuhan tidak mengabulkan permohonannya, tetapi Tuhan menjawab doa Paulus dalam bentuk lain, yaitu supaya Paulus justru makin mengalami kasih karunia dan kuasa Tuhan di dalam kelemahannya itu (2 Korintus 12:7-10)

Kesimpulan hasil survei di atas menunjukkan bahwa sebagian besar doa-doa orang Kristen di Amerika hanya berkutat pada pemenuhan kebutuhan fisik saja, atau berdoa untuk kepentingan diri sendiri saja. Mungkin hasil survei ini juga menggambarkan sebagian besar isi doa-doa kita, bukan hanya di Amerika. Sekali lagi, hal itu bukan doa yang salah. Itu doa yang baik. Tetapi kalau isi doa kita setiap hari hanya berkutat seputar kepentingan diri kita saja, maka kehidupan doa kita belum bertumbuh dengan baik. Hasil survei itu menunjukkan, sedikit sekali orang Kristen yang berdoa meminta kepada Tuhan supaya dirinya menjadi jawaban doa bagi kebutuhan dan pergumulan orang lain.

Saat ini kita mau belajar dari kehidupan doa Nehemia. Pada saat itu Nehemia menjabat posisi yang sangat penting sebagai juru minuman Raja Persia, Artahsasta. Juru minuman raja pada masa itu mempunyai hak yang sangat istimewa dan tanggung jawab yang besar. Sebelum raja meminum anggur atau minuman pada saat itu, maka tugas dari Nehemia untuk memastikan bahwa minuman itu tidak ada racun di dalamnya yang membahayakan raja. Karena sudah menjadi kebiasaan di dunia kuno pada masa itu, salah satu cara licik yang digunakan oleh musuh-musuh raja untuk membunuh raja lawan mereka adalah melalui racun yang dituangkan dalam minuman. Jadi, tidak mudah seseorang bisa menjadi juru minuman raja pada saat itu. Orang itu harus teruji kesetiaan dan loyalitasnya kepada raja. Orang itu harus benar-benar bisa dipercaya oleh raja. Jadi, jangan membayangkan pekerjaan juru minuman raja ini seperti pelayan-pelayan restoran yang melayani konsumen pada masa kini.

Suatu hari Nehemia, mendengar kabar buruk, kabar yang sungguh menyayat hatinya tentang kampung halamannya di Yerusalem. Di ayat 3 dikatakan, ada 2 berita yang menyedihkan yang disampaikan oleh Hanani, saudara kandung dari Nehemia. Berita memilukan itu adalah:

1. Umat Israel yang masih tersisa di Yerusalem mengalami kesukaran besar akibat situasi politik dan ekonomi. Dan kalau kita membaca Nehemia pasal 5, kesukaran besar itu berupa banyak orang Israel hidup dalam kemiskinan. Untuk makan sehari-hari saja pun mereka susah. Tidak sedikit diantara mereka yang menggadaikan rumah mereka demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah lagi mereka harus membayar pajak kepada raja sebagai bangsa tawanan Persia.

2. Tembok Yerusalem runtuh dan pintu-pintu gerbangnya terbakar. Padahal Yerusalem adalah Kota Suci Umat Israel, dimana Bait Allah sebagai tanda kehadiran Allah ada disana. Tetapi sekarang tembok Yerusalem yang dipandang sebagai identitas dan lambang kebesaran Yerusalem, tembok itu telah roboh.

Mendengar berita yang memilukan itu, Nehemia menangis, dia berkabung, dia berdoa, dan berpuasa berhari-hari di hadapan Tuhan. Tetapi Nehemia tidak berhenti hanya pada berdoa dan berpuasa, di ayat 11 jelas sekali terlihat niatnya yang tulus dan sungguh-sungguh untuk menolong umat Israel dari keterpurukan hidup mereka.

Jika kita membaca pasal 2 dan seterusnya, kita melihat Nehemia rela berkorban. Dia rela meninggalkan hidupnya yang nyaman di istana. Dia memimpin langsung pembangunan tembok dan pintu gerbang Yerusalem. Padahal mungkin Nehemia, bisa saja berkata, “Aku sangat sibuk di istana. Aku tidak mungkin meninggalkan tugas pentingku sebagai juru minuman raja. Aku tidak bisa datang ke Yerusalem. Hai orang Israel, aku akan memberikan sumbangan uang kepada kalian untuk meringankan beban hidup kalian, dan aku juga akan sumbang biaya pembangunan tembok Yerusalem.” Namun, Nehemia tidak mengambil keputusan seperti itu. Dia datang ke Yerusalem. Dia memberikan waktunya. Dia memberikan pikirannya. Dia memberikan uangnya, dan tenaganya. Dia memberikan dirinya sendiri untuk menolong umat Israel dan memimpin pembangunan tembok kota Yerusalem.

Nehemia juga tidak berkata, “Ya Tuhan, utuslah dan kirimkanlah orang lain untuk menolong umat-Mu di Yerusalem.” 
Kepedulian Nehemia bukan hanya di hati dan di bibir saja, bukan sekedar sebatas doa saja. Nehemia meminta Tuhan untuk mengutus dirinya sendiri.

Banyak orang yang bisa mendengar penderitaan dan pergumulan orang lain, tetapi tidak banyak orang yang setelah mendengar pergumulan orang lain, mau terlibat untuk membantu meringankan pergumulan orang lain, seperti yang dilakukan oleh Nehemia.

Banyak orang yang bisa mendengar pergumulan orang lain, tetapi tidak banyak orang yang setelah mendengar, lalu punya hati yang terusik, punya semacam “kegelisahan rohani”, punya hati yang tergerak untuk membantu meringankan beban hidup orang lain seperti Nehemia.

Nehemia sungguh menyadari apa artinya menerima anugerah dan berkat dari Tuhan. Dia orang yang sangat dipercaya raja, sehingga bisa menjadi juru minuman raja, padahal dia hanya orang asing di Kerajaan Persia. Nehemia sadar Tuhan memberikan posisi penting ini bagi dirinya,  karena ada maksud dan rencana Tuhan dalam hidupnya, yaitu supaya melalui dirinya, dia bisa meringankan beban hidup orang Israel dan membangun kembali tembok kota Yerusalem yang hancur.

Nehemia mempunyai hati yang siap sedia untuk dipakai oleh Tuhan menjadi jawaban doa bagi pergumulan dan penderitaan orang lain/bangsanya.
Banyak orang yang hanya bersyukur atas anugerah dan berkat Tuhan yang diterimanya, tetapi tidak banyak orang yang mau bertanya dan bergumul bersama Tuhan:“Tuhan, mengapa Engkau memberikan anugerah dan berkat itu bagi diriku? Apa maksud-Mu memberikan anugerah dan berkat itu bagi diriku? Apa yang Tuhan inginkan supaya aku lakukan?”

Kiranya Tuhan menolong kita, supaya Tuhan memampukan diri kita menjadi jawaban doa bagi kebutuhan dan pergumulan orang lain.
Berbahagialah orang yang mau dipakai oleh Tuhan menjadi berkat dan jawaban doa bagi pergumulan orang lain. Amin.

GOSIP

“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” (Amsal 21:23) APA ITU GOSIP? Gosip adalah menyebark...